Feeds:
Tulisan
Komentar

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

DI ERA INFORMASI DAN GLOBALISASI

Muhamad Arwani*

Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum

Istilah pendidikan agama terdiri atas dua kata, yaitu “pendidikan” dan “agama”. Kata “pendidikan” secara etimologi berasal dari kata didik yang berarti “proses pengubahan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui pendidikan dan latihan” (Depdikbud,1990:204). Istilah pendidikan semula berasal dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan kata education yang berarti pengembangan atau bimbingan.

Sementara itu, kata “agama” (religi : Inggris) berasal dari bahasa latin relegere yang berarti kumpulan atau bacaan. Pengertian ini sejalan dengan keadaan agama sebagai kumpulan cara mengabdi kepada Tuhan yang terhimpun di dalam kitab suci yang selanjutnya menjadi bacaan. Adapun arti agama secara istilah adalah ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang rasul.

Dengan demikian, pendidikan agama adalah pendidikan yang materi bimbingan atau arahannya adalah ajaran-ajaran Tuhan yang diwahyukan kepada manusia melalui rasul dengan tujuan agar manusia mempercayai dengan sepenuh hati akan adanya Tuhan, serta tunduk dan patuh melaksanakan perintahNya. Pendidikan agama adalah pendidikan yang diarahkan untuk menumbuhkembangkan rasa intuisi keagamaan yang ada dalam diri seseorang, kemudian melaksanakan ajaran-ajarannya dengan penuh kepatuhan dan ketaatan.

* Penulis adalah Guru SMP Negeri 22 Purworejo

Pendidikan agama Islam adalah pendidikan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat kelak (Darajat, 1995:86).

Dasar pelaksanaan pendidikan agama Islam adalah firman Allah dalam Al-qur’an surat Asy-Syuura ayat 52 sebagai berikut.

y7Ï9ºx‹x.ur !$uZø‹ym÷rr& y7ø‹s9Î) %[nr①ô`ÏiB $tR̍øBr& 4 $tB |MZä. “Í‘ô‰s? $tB Ü=»tGÅ3ø9$# Ÿwur ß`»yJƒM}$# `Å3»s9ur çm»oYù=yèy_ #Y‘qçR “ωök¨X ¾ÏmÎ/ `tB âä!$t±®S ô`ÏB $tRϊ$t6Ïã 4 y7¯RÎ)ur ü“ωöktJs9 4’n<Î) :ÞºuŽÅÀ 5OŠÉ)tGó¡•

Artinya : Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Sementara itu, pelaksanaan pendidikan agama di sekolah umum didasarkan pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Dalam Pasal 37 ayat (1) disebutkan bahwa: Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olahraga, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal. Dengan demikian, pelaksanaan pendidikan agama di sekolah umum diatur dalam undang-undang, baik yang berkaitan dengan sarana dan prasarana pendidikan, biaya pendidikan, tenaga pengajar, kurikulum, dan komponen pendidikan lainnya.

Pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah umum memiliki peran dan fungsi yang jelas. Adapun fungsi pendidikan agama Islam antara lain, meliputi (1) pengembangan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. serta akhlak mulia, (2) kegiatan pendidikan dan pengajaran, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (4) semangat studi keilmuan dan IPTEK (Shaleh, 2005).

Bangsa Indonesia telah berketetapan bahwa melalui proses pendidikan itulah setiap warga negara Indonesia dibina dan ditingkatkan keimanan dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, peningkatan keimanan dan ketakwaan sebagai salah satu unsur tujuan pendidikan nasional mempunyai makna pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang kita dambakan. Dengan demikian pendidikan agama Islam di sekolah umum merupakan media untuk proses pendidikan agama dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya, yakni manusia yang utuh jasmani dan rohani yang sesuai dengan tujuan umum pendidikan nasional. Oleh karena itu, bisa dipahami bahwa pendidikan agama Islam di samping fungsinya sebagai fungsi pendidikan, juga berfungsi sebagai fungsi agama. Artinya, untuk mengetahui ajaran agama Islam tidak lain melalui proses pendidikan yang pada akhirnya konsep manusia iman, takwa, dan akhlak mulia akan tercapai.

Sementara itu, pendidikan agama Islam dikatakan memiliki fungsi kegiatan pendidikan dan pengajaran didasarkan pada dua aspek. Aspek pertama dari pendidikan agama Islam adalah yang ditujukan pada jiwa atau pada pembentukan kepribadian. Anak didik diberi kesadaran kepada adanya Tuhan, lalu dibiasakan melakukan perintah-perintah Tuhan dan meninggalkan larangan-laranganNya. Aspek kedua, dari pendidikan agama Islam adalah yang ditujukan kepada pikiran, yaitu pengajaran agama itu sendiri. Kepercayaan dan Iman kepada Tuhan tidak akan sempurna bila isi dari ajaran-ajaran Tuhan itu tidak diketahui betul. Anak didik harus ditunjukkan apa yang disuruh, apa yang dilarang, apa yang boleh, dan apa yang dianjurkan melakukannya menurut ajaran agama.

Di sisi lain, pendidikan agama Islam di sekolah umum adalah merupakan salah satu proses pendukung bagi tercapainya tujuan umum pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan nasional pada dasarnya adalah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sehingga menjadi bangsa yang bermartabat dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kehidupan bangsa yang cerdas yang dikehendaki oleh rumusan fungsi dan tujuan pendidikan nasional adalah terwujudnya manusia Indonesia yang mempunyai imtak (iman dan takwa) dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Oleh karena itu, pendidikan agama Islam harus berfungsi sebagai rangkaian proses untuk tercapainya peserta didik yang mempunyai kekuatan imtak dan iptek.

Sejalan dengan itu, pendidikan agama Islam juga memiliki fungsi semangat studi keilmuan dan iptek. Hal ini dapat dilihat pada realita bahwa dalam pelaksanaanya proses pembinaan imtak tidak lagi cukup hanya didekati secara monolitik melalui pendidikan agama, melainkan integratif. Perspektif yang melandasinyapun tidak lagi dikotomis, melainkan lebih dilandasi semangat rekonsiliasi, karena agama dan ilmu pengetahuan pada dasarnya berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah Swt.

Dengan demikian, pembinaan iman dan takwa siswa tidak lagi hanya semata-mata dipercayakan kepada PAI sebagai suatu mata pelajaran, melainkan dilakukan melalui strategi-strategi yang saling melengkapi diarahkan untuk membina imtak siswa, strategi yang dimaksud adalah integrasi materi imtak ke dalam materi iptek (pelajaran non PAI). Dapat dikemukakan bahwa pendidikan iptek melalui mata pelajaran non PAI memiliki tiga aspek, yaitu : Pertama, substansi pendidikan iptek. Melalui pendidikan iptek peserta didik diarahkan menguasai dalil, teori, generalisasi, konsep, dan prinsip-prinsip iptek yang kemudian diterapkan dalam pemecahan masalah keilmuan. Kedua, iptek merupakan alat pendidikan yang lebih luas (education through science). Melalui pendidikan iptek logika berpikir peserta didik dikembangkan sehingga lebih tertib, lugas, dan sistematis. Ketiga, aspek nilai moral dan etika yang terkandung dalam pendidikan iptek.

Selanjutnya, hal yang perlu untuk diperhatikan adalah bahwa objek utama dari pendidikan agama Islam di sekolah adalah pribadi anak yang sedang berkembang. Oleh karena itu, adanya hubungan timbal balik antara penanggung jawab pendidikan, yaitu yang di dalamnya terdiri dari kepala sekolah, para guru, staf ketatausahaan, orang tua dan anggota keluarga lainnya mutlak diperlukan. Hal ini bukan hanya karena peserta didik masih memerlukan perlindungan dan bimbingan sekolah dan keluarga tersebut, tetapi juga pengaruh pendidikan dan perkembangan kejiwaan yang diterima peserta didik dari kedua lingkungan tersebut tidak boleh menimbulkan pecahnya kepribadian anak. Pengaruh komplikasi psikologis tersebut selain bisa mengakibatkan frustasi pada diri anak, juga dapat menghambat perkembangan jiwa anak didik.

Dengan kata lain, suatu kerja sama antara penanggung jawab pendidikan tersebut perlu diintensifkan, baik melalui usaha guru di sekolah maupun orang tua murid. Pertemuan antara kedua pendidik (guru dan orang tua) perlu diadakan secara periodik, kunjungan guru ke rumah orang tua murid yang diatur secara periodik untuk saling mengadakan pertukaran pikiran dan pendapat tentang anak didiknya adalah merupakan kegiatan pedagogis yang sangat penting. Guru perlu mengetahui tentang suasana rumah tempat anak itu hidup, sehingga guru mengetahui suasana keagamaannya dan bagaimana pandangannya terhadap perlunya pendidikan agama.

Lingkungan masyarakat juga mempunyai pengaruh pada pendidikan anak di sekolah. Terhadap pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah, sekolah dan masyarakat mempunyai hubungan timbal balik, yaitu sekolah menerima pengaruh masyarakat dan masyarakat juga dipengaruhi oleh hasil pendidikan sekolah. Sudah menjadi tugas sekolah untuk mengenalkan anak agar mereka belajar hidup di masyarakat, belajar memahaminya, dan mengenal baik buruknya. Dengan demikian, dengan cara tersebut diharapkan agar anak memahami dan menghargai suasana masyarakatnya.

Perubahan Aspirasi Masyarakat Terhadap Pendidikan

Saat ini, banyak orang (terutama yang berkecimpung di dunia pendidikan Islam) yang mengeluhkan terjadinya perubahan aspirasi masyarakat di bidang pendidikan dan pekerjaan. Mereka 'menyalahkan' masyarakat yang menurut pendapatnya, telah tidak memperhatikan pendidikan agama demi memperoleh pendidikan, pengetahuan, dan ketrampilan yang berkaitan dengan prospek memperoleh pekerjaan dimasa depan. Namun, apakah keluhan dan penyesalan saja dapat menyelesaikan persoalan yang kita hadapi? Haruskah masyarakat menyesuaikan diri dengan selera kita yang bergerak di bidang pendidikan Islam, ataukah kita yang menyesuaikan diri dengan selera masyarakat?

Dalam pendekatan sistem ada kaidah yang mengatakan bahwa suatu sistem akan tetap bertahan apabila sistem tersebut dapat memenuhi kebutuhan suprasistemnya. Dalam sistem pendidikan, lembaga pendidikan merupaka subsistem dari masyarakat. Fungsi subsistem ini adalah melayani kebutuhan suprasistemnya. Dengan demikian, fungsi lembaga pendidikan adalah untuk melayani kebutuhan masyarakatnya. Ketika kebutuhan masyarakat di bidang pendidikan itu berubah, maka lembaga pendidikan itu harus menyesuaikan dirinya dengan perubahan itu agar dia sebagai subsistem, tetap bertahan (dibutuhkan).

Masyarakat memang selalu berubah dan memang harus berubah. Sejarah telah mencatat perubahan-perubahan itu, mulai dari zaman primitif sampai zaman komputer sekarang ini. Masyarakat yang tidak mau berubah akan ketinggalan jika dibandingkan dengan masyarakat yang mau berubah. Kita tidak dapat menghalangi perubahan itu, karena di dunia ini, hanya perubahan itulah yang pasti terjadi.

Perubahan masyarakat terjadi karena adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengetahuan dan teknologi itu kemudian tersebar luas melalui komunikasi antarkelompok masyarakat dan antarnegara. Kecepatan perubahan yang terjadi di seluruh dunia akhir-akhir ini merupakan akibat dari kemajuan iptek dibidang telekomunikasi yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi antartempat yang jaraknya sangat jauh dengan sangat cepat dengan media telepon dan siaran televisi melalui satelit, serta internet.

Kemajuan teknologi komunikasi telah memungkinkan orang melihat kemajuan masyarakat atau bangsa lain dan ingin menirunya. Pertukaran informasi yang cepat inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan cepat di masyarakat. Perubahan itu kini kita rasakan hampir disemua bidang, di bidang politik, ekonomi, iptek, sosial, budaya, dan agama. Keinginan untuk meniru kemajuan bangsa lain itulah yang mungkin menyebabkan kita menganggap masyarakat kita saat ini semakin disibukkan oleh urusan dunia dan menomorduakan urusan akhirat. Tetapi, benarkah demikian?

Kalau kita mau menengok sejarah, barangkali akan terkesan bahwa tren manusia sibuk dengan urusan dunia dan melupakan urusan akhirat itu bukanlah barang baru. Di dalam Alqur'an surat Ar Ruum ayat 6 dan 7 Allah Swt. telah berfirman :

y‰ôãur «!$# ( Ÿw ß#Î=øƒä† ª!$# ¼çny‰ôãur £`Å3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw šcqßJn=ôètƒ ÇÏÈ tbqßJn=ôètƒ #\Îg»sß z`ÏiB Ío4quŠptø:$# $u‹÷R‘‰9$# öNèdur Ç`tã ÍotÅzFy$# ö/ãf tbqè=Ïÿ»xî ÇÐÈ

Artinya : (sebagai) janji yang Sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjinya, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui. Mereka Hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.

Dan masih banyak lagi firman Allah yang menunjukkan betapa banyak manusia yang melupakan akhirat karena tergoda perhatiannya oleh kesibukan dunia. Oleh karena itulah, Allah lalu mengutus para nabi dan rasul untuk mengingatkan manusia agar tidak terlalu terbuai oleh urusan dunia yang fana ini. Sifat dasar manusia untuk lupa dan terbuai oleh dunia itu menimbulkan kebutuhan akan 'para pengingat' yaitu nabi dan rasul. Kini sesuai dengan kemajuan zaman, nabi dan rasul itu tiada lagi, maka orang-orang yang bergerak dalam bidang pendidikan agama Islam lah yang harus mengambil fungsi tersebut dengan menggunakan strategi yang disesuaikan dengan eranya.

Peluang Pengembangan Pendidikan Agama Islam saat ini

Pertanyaan yang muncul kini, di saat warga masyarakat yang semakin tertarik pada masalah dunia (non agama) dan cenderung menomorsekiankan masalah yang berkaitan dengan agama, adalah peluang apakah yang dapat dimanfaatkan oleh para pengelola pendidikan agama agar pendidikan agama Islam tetap eksis di masyarakat? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus betul-betul cermat dan kritis dalam memperhatikan perkembangan dan perubahan yang terjadi di masyarakat.

Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang telekomunikasi dan informasi telah membuka peluang baru bagi strategi pengembangan pendidikan agama Islam, Dengan semakin maraknya internet, maka semakin memudahkan guru dan para pengelola pendidikan agama Islam (ustadz,/kyai) untuk dapat mengakses literatur-literatur dan sumber-sumber pengetahuan dari seluruh penjuru dunia, sehingga mereka dapat dengan mudah memperluas dan memperdalam keilmuannya. Di samping itu, mereka juga dapat dengan mudah dan cepat mengadopsi strategi-strategi pembelajaran yang digunakan di lembaga-lembaga pendidikan dari berbagai negara.

Kemajuan pengetahuan dan teknologi di bidang komputer juga memungkinkan para pendidik (guru agama Islam) untuk mengembangkan pola dan strategi pembelajarannya menggunakan media program-program komputer. Salah satu contoh konkrit adalah guru dapat merangkum materi pembelajaran yang diambil dari berbagai literatur dan berbagai sumber (televisi, internet, dan sebagainya), kemudian materi tersebut di susun dalam program khusus (misal: power point). Dengan demikian, dalam proses pembelajaran guru tinggal menayangkannya melalui proyektor (LCD) dan memberikan sedikit penjelasan. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan menayangkan CD-CD pembelajaran yang sudah tersedia (haji & umroh, digital Al Qur'an, dan sebagainya) atau bahkan dengan CD buatan sendiri (shooting dengan handycamp) dengan setting dan materi yang sudah disesuaikan dengan pokok bahasannya. Dengan strategi tersebut, materi pelajaran dapat disampaikan secara kontekstual dan menyenangkan, sehingga siswa akan lebih tertarik (tidak bosan) untuk memperhatikan materi pembelajaran dan pada gilirannya akan menumbuhkan motivasi pada diri siswa untuk aktif mengikuti proses pembelajaran pendidikan agama Islam.

Di sisi lain, kemajuan di bidang telekomunikasi, dengan semakin maraknya perkembangan telepon seluler (Hand Phone), memungkinkan guru untuk dapat mengkoordinasikan, mengkonsultasikan serta melaporkan perkembangan siswa kepada orang tua murid maupun keluarganya dengan lebih cepat, efektif, dan efisien. Di samping itu, telepon seluler juga dapat dimanfaatkan untuk media bimbingan dan pembinaan guru kepada siswa secara jarak jauh. Sehingga jika siswa mengalami atau menemukan kesulitan di bidang agama, maka serta merta dapat mengkonsultasikan dan menanyakannya kepada guru. Dengan demikian, hubungan antara, guru, siswa, dan orang tua siswa dapat terjalin dengan efektif, luwes, dan harmonis.

Sementara itu, di bidang perkembangan kurikulum pendidikan nasional, penggunaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) atau kurikulum 2006 yang merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan, juga memberikan peluang kepada guru untuk merekonstruksi strategi pengembangan pendidikan agama Islam. Peluang itu dapat dilihat pada prinsip-prinsip pengembangan dari kurikulum tersebut, yaitu : a) berpusat pada potensi, perkembangan kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya, b) beragam dan terpadu, c) tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, d) relevan dengan kebutuhan kehidupan, e) menyeluruh dan berkesinambungan, f) belajar sepanjang hayat, dan g) seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

Dengan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum di atas, setiap satuan pendidikan memiliki kesempatan untuk mengarahkan dan mendisain program pembelajaran menuju kepada terbentuknya pribadi siswa yang utuh, termasuk di dalamnya adalah program pendidikan agama Islam. Di era globalisasi saat ini, pendidikan agama Islam dapat diarahkan kepada bagaimana mendidik para siswa (generasi muda Islam) agar mereka dapat menjadi orang modern di zamannya (tidak kalah dalam persaingan) tetapi memiliki rasa keimanan, ketakwaan, dan akhlak yang mulia.

Tantangan Pengembangan Pendidikan Agama Islam

Tantangan yang dihadapi oleh para pendidik dalam mengembangkan pendidikan agama Islam di abad informasi dan globalisasi ini adalah "mampukah para pengelola pendidikan agama Islam memanfaatkan peluang yang telah diutarakan di depan?". dan "mampukah mereka mengatasi kendala-kendala yang selama ini melilit proses pengembangan pendidikan agama Islam?"

Selama ini, kendala-kendala yang masih melilit pada proses pengembangan pendidikan agama Islam antara lain adalah : (1) minimnya, sarana prasarana, literatur, sumber, dan media pembelajaran yang tersedia di setiap tingkat satuan pendidikan, (2) perubahan orientasi dan aspirasi masyarakat terhadap pentingnya pendidikan agama Islam sebagai akibat dari derasnya arus globalisasi, dan (3) rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) para pengelola pendidikan (khususnya guru).yang meliputi beberapa aspek, yaitu : (a) aspek keluasan dan kedalaman pengetahuan ilmu agama, (b) aspek penguasaan terhadap metodologi dan teknik penyampaian materi, (c) aspek penguasaan terhadap pengetahuan umum dan teknologi, dan (d) aspek keteladanan dan penghayatan terhadap ajaran agama.

Untuk dapat mengatasi kendala-kendala tersebut, maka para guru agama Islam di zaman ini dituntut untuk memiliki kompetensi dan kualifikasi keilmuan dengan ciri-ciri sebagai berikut.

Menguasai ilmu agama Islam secara luas dan mendalam serta menguasai perbedaan-perbedaan paham yang pernah ada di kalangan umat Islam mengenai berbagai masalah (politik, budaya, agama, dan sebagainya).

b. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam sehingga dapat dijadikan teladan perilaku bagi siswa dan orang lain yang mengikutinya.

c. Berwawasan global serta menguasai bahasa asing (arab & Inggris) agar memudahkan dalam memperluas wawasan keilmuannya dan selalu mengikuti perkembangan dunia.

d. Mengikuti perkembangan dan kemajuan iptek sehingga dapat berkomunikasi secara lancar dengan warga masyarakat yang kini sudah terbiasa hidup sehari-hari dengan iptek.

e. Menguasai ilmu berkomunikasi dan pengetahuan tentang strategi-strategi pembelajaran yang diperlukan untuk menyampaikan materi pembelajaran (CTL, PAKEM, dan sebagainya).

Bagaimana seharusnya pendidikan Agama Islam diaplikasikan?

Berdasarkan peluang dan tantangan sebagaimana yang telah diuraikan di atas, pertanyaan yang muncul kemudian adalah “bagaimanakah seharusnya pendidikan agama Islam diaplikasikan?” Untuk menjawab permasalahan tersebut perlu ditinjau kembali bahwa pendidikan bertujuan untuk menjadikan peserta didik sebagai manusia yang utuh dan sempurna (Drijakarya,1980). Di samping itu, pendidikan juga bermakna usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi perannya di masa yang akan datang (Sudarminto, 2000). Namun, sudahkah pendidikan yang ada saat ini benar-benar dengan kesadaran penuh mempersiapkan generasi muda yang mampu menghadapi tantangan hidupnya di masa yang akan datang?. Dalam kenyataannya terdapat evaluasi yang menunjukan ada gejala atau kasus bahwa proses pendidikan sekarang kurang mampu mengikuti dan menanggapi arus perubahan yang terjadi dalam masyarakat dengan indikasi munculnya berbagai kasus penyakit sosial dimana pelaku utamanya adalah pelajar.

Berdasarkan evaluasi tersebut, maka sebaiknya materi pendidikan agama Islam yang diberikan mulai tingkat TK hingga sekolah menengah dari yang standar perlu ditambahkan berbagai kreasi, serta dalam penerapannya antara materi teori dan parktek supaya ada kesinambungan. Caranya, pihak sekolah dan guru agama sendiri perlu melakukan upaya-upaya peningkatan kreasi materi yang diberikan dengan mengemas sedemikan rupa supaya pelajaran agama ini tidak menjenuhkan. Ya teori langsung praktek dilakukan di out door, misalkan di masjid, mushalla atau dimana saja yang bisa membuat daya tarik siswa.

Sementara itu, selain pelajaran agama melalui bangku sekolah, pihak orang tua juga harus banyak berperan dilingkungan keluarga dengan menerapkan konsep keluarga sakinah. Yakni menciptakan keluarga yang  tenteram dan harmonis, bisa terpenuhi antara kebutuhan fisik dan psikis ialah menjadikan keluarga sebagai basis pendidikan sekaligus penghayatan agama anggota keluarga. Karena apabila pendidikan agama Islam hanya ditumpukan pada pendidikan formal di sekolah, sebenarnya amat sempit karena pendidikan formal dibatasi ruang, waktu, kurikulum, target nilai, jenjang, terlebih ada intervensi sistem pendidikan dari luar lembaga pendidikan. Sedangkan ilmu yang dikaji sebenarnya lebih bersifat terapan, mengedepankan nalar, serta keberhasilannya diwujudkan dalam kerangka pengembangan pengetahuan yang bersifat praktis seperti teknologi, ekonomi, pranata sosial, dan sebagainya. Sesungguhnya, pendidikan pendidikan agama itu lebih sakral bersifat sepanjang hidup, yang di dalamnya mencapai target matang (mature) bukan sekadar kaffah (kuantitatif) atau relegiusitas, tetapi kedalaman spiritualitas haqqa (uqatihi). Maka untuk itu, pendidikan agama menjadi penting diletakkan dalam wilayah yang tidak disekat sistem, tetapi untuk penghayatannya harus paduan antara pengetahuan dan pengalaman. Sementara supaya generasi muda tidak terseret derasnya arus perubahan, sekolah perlu mengembangkan pendidikan alternatif dengan mengedepankan keseimbangan antara pemahaman pengetahuan umum dan agama.

Berdasarkan hal tersebut, salah satu alternatif yang mungkin dapat digunakan untuk menerapkan pendidikan agama Islam pada saat ini adalah prinsip pengembangan diri dengan mengintegrasikan antara Basic Life Skill dengan Pendidikan Agama Islam. Hal ini dilhami oleh apa yang dikatakan oleh Jujun S. Sumantri :

Ilmu membuat orang jadi pandai, teknologi memberi kemudahan, namun semuanya tidak membawa bahagia dan hanya sepi dan kengerian yang terbayang. Kenyataan terjadinya hal itu adalah karena masing-masing pengetahuan itu terpisah satu sama lain. Ilmu terpisah dari moral, moral terpisah dari seni, senipun terpisah dari ilmu. Pengetahuan kita hanya memiliki sepotong-sepotong, tidak utuh. (Jujun S. Sumantri, 1992)

Definisi pengembangan diri adalah usaha terencana untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang mencerminkan kedewasaan pribadi guna meraih kondisi yang lebih baik lagi dalam mewujudkan citra diri yang diidam-idamkan (Bastaman, 2001). Sedangkan Basic life skills adalah ketrampilan hidup yang mendasar, yang sangat diperlukan dalam mengelola hidup dan merencanakan masa depan disertai langkah sistematis untuk mencapainya (Ibrahim, 2004).

Ketrampilan hidup yang mendasar merupakan upaya pengembangan diri yang dilandasi oleh kesadaran bahwa manusia sebagai “the self determining being” memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang paling baik untuk dirinya dalam rangka mengubah nasibnya menjada lebih baik. Prinsip ini tampak sesuai dengan prinsip “ Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri meraka sendiri”.

Beberapa Konsep basic life Skills yang telah dijelaskan di atas, seyogyanya terintegasi dalam pendidikan agama Islam meliputi aqidah, syari’ah, akhlak dan sejarah Islam, sehinggga dalam pembelajaran agama Islam di dalamnya terdapat latihan praktis untuk penetapan tujuan, mengurai rencana sampai detail, dan menyusun proses pencapaian, di samping penyusunan peta hidup dengan dibarengi manajemen waktu yang cermat dan mengambil hikmah dari sejarah tokoh-tokoh sukses.

Dalam hal ini pendidikan agama Islam tidak terlepas dari pembimbingan atau asistensi pada peserta didik agar memiliki nilai-nilai yang akan menentukan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang antara lain: (a) Kesadaran, dengan memiliki visi-dan misi dalam hidup atau konsep diri yang jelas; (b) Keterarahan, dengan memiliki life planning; (c) Keteraturan, dengan memiliki program dan skedul; (d) Kemauan, memiliki dorongan berprestasi yang tinggi; (e) Kompetensi, dengan memiliki kemampuan dasar yang menjadi unggulan, (f) Inovasi, dengan memiliki kemampuan melakukan pengembangan berkesinambungan; dan (g). Keseimbangan, dengan memiliki keseimbangan dalam sisi hubungan kemanusiaan dan nuansa spiritual. Nilai-nilai tersebut diharapkan akan menjadikan panduan bagi siswa agar mereka selanjutnya menerjemahkan menjadi kebiasaan-kebiasaan hidup sebagai bekal menghadapi segala tantangan zaman yang dilaluinya dengan sukses baik dunia mapun akhirat.

Dengan demikian, Integrasi Basic life skills dalam pendidikan agama Islam memberikan kemampuan pada peserta  untuk mengelola dan merencanakan masa depan, sehinggga pelajaran aqidah, syariah, akhlak dan sejarah Islam tidak hanya sebatas pengetahuan tetapi lebih sebagai inspirasi yang menjadi daya dorong juga kemampuan untuk sukses dalam mengarungi kehidupan. Karena sesungguhnya rencana dan tujuan masa depan yang telah digariskan oleh Islam,  jika diikuti dengan langkah sistematis untuk mencapainya akan membawa kesuksesan bagi individu dalam menghadapi tantangan zaman dan melahirkan orang-orang yang berprestasi.

Makalah ini disusun dalam rangka mengikuti kegiatan Kolokium Nasional Pendidikan Agama Islam yang diselenggarakan oleh Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto, tanggal 1 Mei di Gedung Pusat UMP Purwokerto..

DAFTAR PUSTAKA

Abadi, Nur. 2006. Apakah KTSP itu? ; Rindang edisi Oktober 2006. Semarang. Depag Prop. Jateng

Bastaman,HannaDjumhana, 2001. Integrasi Psikologi dalam Islam Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Darajat, Zakiah. 1995. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta. Bumi Aksara

Depag RI, 1983. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta.

Depdikbud. 1990. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka

Drijakarya. 1980. Drijakarya Tentang Pendidikan. Jogjakarta: Kanisius,

Furchan, Arief. 2004. Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia; Anatomi Keberadaan Madrasah dan PTAI.. Yogyakarta. Gama Media.

Ibrahim, Marwah Daud. 2004. Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan, Jakarta: MHMMD,

Shaleh, Abdul Rachman. 2005. Pendidikan Agama & Pembangunan Watak Bangsa. Jakarta. PT. RajaGrafindo Persada.

Sudarminto. 2000. Transformasi Pendidikan Memasuki Milineum Ketiga, Jogjakarta: Kanisius


Hello world!

Muhamad Arwani, S.Ag.. M.Pd

Assalamu’alaikum wr wb

Bapak/Ibu dan teman-teman guru PAI SMP se Kab. Purworejo. Alhamdulillah rahmat dan hidayah Allah masih selalu teranugerahkan kepada kita sekalian. Bersama ini saya mengundang Bapak/Ibu/teman-teman untuk ikut serta memanfaatkan Blog ini untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, kreatifitas, dan kemampuan kita untuk mewujudkan cita-cita menjadi guru yang profesional. Dengan harapan Proses Pembelajaran PAI di Kab. Purworejo semakin-hari semakin meningkat sehingga dapat menghasilkan siswa siswi yang unggul dalam prestasi dan santun dalam pekerti. Dan secara umum dapat meningkatkan kualitas Pendidikan Nasional. Selamat berjuang!!!

Wassalamu’alaikum wr wb

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.